Ada kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Kampus Kakatua, Fakultas Sastra UMI di era tahun sembilan puluhan, aroma kertas diktat yang baru difotokopi, suara mesin tik yang bersaing dengan komputer generasi pertama, (wordstar, lotus) dan diskusi-diskusi panjang tentang Shakespeare, Chairil Anwar, hingga pergolakan politik yang sedang menggeliat di luar tembok kampus. Masa itu terasa jauh, namun relevansinya justru terasa kian mendesak hari ini.
Fakultas Sastra, yang kini menjadi Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) UMI Makassar kini berdiri di persimpangan yang menentukan. Di satu sisi, warisan intelektual dan nilai-nilai keislaman yang telah menjadi fondasinya selama puluhan tahun. Di sisi lain, badai disrupsi teknologi digital yang tidak memberi ampun kepada siapa pun yang memilih diam.
Pertanyaannya bukan lagi apakah transformasi diperlukan. Pertanyaannya adalah: seberapa dalam keberanian kita untuk berubah?
Mari kita jujur kepada diri sendiri. Hari ini, sebuah algoritma kecerdasan buatan mampu menerjemahkan teks dari puluhan bahkan ratusan bahasa dalam hitungan detik, pekerjaan yang dulu menjadi kebanggaan seorang sarjana sastra. Model bahasa besar (large language models) menulis esai, menyunting naskah, bahkan menghasilkan puisi dengan diksi yang mengagumkan. Platform digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, bercerita, dan membangun makna.
Apakah ini berarti ilmu sastra, komunikasi, dan pendidikan telah tamat riwayatnya? Justru sebaliknya. Tetapi hanya jika kita mau melihatnya dengan jujur.
Yang tamat bukan ilmunya. Yang tamat adalah cara lama mengajarkannya.
Jurusan Sastra Inggris yang hanya mengajarkan tata bahasa dan analisis teks tanpa membekali mahasiswanya dengan kemampuan content strategy, UX writing, atau cross-cultural communication untuk pasar digital, sedang mendidik generasi untuk dunia yang sudah tidak ada. Ilmu Komunikasi yang masih berputar di seputar teori-teori klasik tanpa menyentuh ekosistem media sosial, manajemen krisis digital, atau ekonomi kreator, adalah peta untuk kota yang sudah dirobohkan.
Berbicara tentang transformasi tanpa keberanian mendiagnosis luka adalah omong kosong. Setidaknya ada tiga hal yang perlu diakui secara terbuka oleh FSIKP UMI, dan ini berlaku pula bagi banyak fakultas serupa di Indonesia.
Pertama, kurikulum yang tertinggal dari pasar. Ketika perusahaan-perusahaan teknologi, media digital, dan startup komunikasi mencari talenta yang memahami storytelling berbasis data, social listening, pengelolaan reputasi digital, dan produksi konten multimedia, banyak lulusan ilmu komunikasi dan sastra masih keluar dengan bekal yang terlalu teoretis dan terlalu jauh dari alat-alat kerja nyata. Ini bukan kesalahan mahasiswanya. Ini adalah utang kurikulum.
Kedua, dosen yang belum sepenuhnya bermigrasi. Tidak ada yang meragukan kedalaman ilmu para pengajar. Tetapi kedalaman ilmu saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan pembaruan cara pandang terhadap ekosistem kerja baru. Seorang dosen komunikasi yang tidak pernah mengelola akun media sosial secara profesional, atau dosen sastra yang tidak pernah mencoba menulis di platform digital, berisiko mengajarkan sesuatu yang tidak lagi terhubung dengan kenyataan yang dihadapi mahasiswanya.
Ketiga, alumni yang belum dioptimalkan sebagai jembatan. Jaringan alumni FSIKP UMI tersebar di berbagai penjuru, ada yang bekerja di media nasional, di perusahaan teknologi, di lembaga pemerintah, di dunia pendidikan dan pelatihan, bahkan di industri kreatif. Namun jaringan ini masih terlalu pasif. Potensi mentoring, berbagi pengalaman industri, bahkan co-teaching belum digarap dengan serius.
Transformasi yang dibutuhkan bukan sekadar menambahkan satu dua mata kuliah tentang media sosial, lalu menyebut diri sudah "digital". Transformasi yang sesungguhnya bersifat ekosistemik, menyentuh filosofi pendidikan, metode pembelajaran, kurikulum, dan cara kampus memosisikan diri di tengah masyarakat.
Pertama: Merayakan yang Tidak Bisa Digantikan Mesin. Di sinilah FSIKP justru memegang keunggulan yang jarang disadari. Kecerdasan buatan bisa menulis, tetapi tidak bisa merasakan. Ia bisa menganalisis teks, tetapi tidak bisa memahami nuansa budaya dan kearifan lokal, tidak bisa menangkap ambiguitas puisi Sapardi, tidak bisa berempati pada cerita seorang ibu yang kehilangan. Human judgment, cultural sensitivity, dan ethical reasoning adalah wilayah di mana lulusan ilmu humaniora seharusnya unggul, jika dilatih dengan benar.
Kurikulum harus dengan sadar membangun kompetensi ini, yaitu kemampuan berpikir kritis terhadap narasi, kepekaan budaya lintas konteks, dan kemampuan menghasilkan makna, bukan sekadar menghasilkan kata.
Kedua: Membangun Lab, Bukan Hanya Kelas. Ilmu komunikasi dan sastra perlu ruang praktik yang setara dengan laboratorium di fakultas sains. Digital Media Lab yang lengkap dengan studio podcast, perangkat produksi video, dan simulasi pengelolaan krisis komunikasi adalah investasi, bukan kemewahan. Writing Center yang aktif membantu mahasiswa mengembangkan portofolio tulisan di berbagai platform adalah kebutuhan, bukan hiasan. Kampus harus menjadi tempat di mana mahasiswa tidak hanya belajar tentang komunikasi, tetapi sungguh-sungguh berkomunikasi.
Ketiga: Mengintegrasikan Nilai, Bukan Memisahkannya. UMI berdiri di atas landasan nilai keislaman. Dalam konteks disrupsi digital, ini bukan beban, ini adalah diferensiasi. Etika komunikasi digital, literasi media berbasis nilai, dan pendekatan kemanusiaan terhadap teknologi adalah isu-isu besar yang sedang diperdebatkan di seluruh dunia. FSIKP UMI punya posisi unik untuk menyuarakan perspektif yang berakar pada nilai, bukan sekadar mengikuti arus teknologi tanpa refleksi moral.
Bayangkan sebuah pusat kajian Ethics of AI and Communication yang berbasis di kampus ini, menjawab pertanyaan-pertanyaan besar tentang disinformasi, privasi digital, dan dampak media sosial terhadap kesehatan mental masyarakat, dari perspektif ilmu humaniora yang diperkaya nilai Islam. Itu bukan mimpi yang terlalu jauh.
Keempat: Program Studi yang Berani Berevolusi. Sastra Inggris tidak perlu menghapus Shakespeare, tetapi perlu menambahkan Digital Storytelling dan Global Content Strategy. Ilmu Komunikasi perlu memberi bobot yang serius pada Data-Driven Communication dan Crisis Communication in Digital Age. Program Pendidikan perlu menjawab pertanyaan, bagaimana mendidik generasi yang tumbuh bersama screen, yang otaknya terbiasa dengan scroll dan swipe, dengan cara yang benar-benar relevan?
Kepada sesama alumni FSIKP UMI, dari angkatan berapa pun, di mana pun kini berada, ada sesuatu yang perlu kita renungkan bersama.
Kita bukan hanya produk dari almamater ini. Kita adalah bagian dari tanggung jawabnya.
Ketika kita berhasil sebagai jurnalis, komunikator, pendidik, penulis, birokrat, atau pelaku industri kreatif, keberhasilan itu sebagian lahir dari fondasi yang dibangun di ruang-ruang kelas FSIKP. Kini giliran kita menjadi bagian dari transformasinya.
Bagi alumni yang bekerja di industri digital dan media, pulanglah, setidaknya secara virtual, untuk berbagi. Satu sesi guest lecture dari seorang alumni yang bekerja sebagai content director di perusahaan teknologi bisa membuka cakrawala mahasiswa lebih dari satu semester kuliah teori. Jadilah dosen tamu, mentor, bahkan mitra riset.
Bagi alumni yang menjadi pemimpin di lembaga pemerintah atau korporasi, bukalah pintu magang yang bermakna. Bukan magang seremonial yang menghabiskan waktu mahasiswa untuk fotokopi dokumen dan bikin kopi, tetapi magang yang sungguh-sungguh melibatkan mereka dalam pekerjaan nyata.
Bagi alumni yang menulis, berkarya, dan bersuara di ruang publik, jadikan karya itu juga investasi bagi generasi berikutnya. Tunjukkan bahwa lulusan ilmu humaniora bisa hadir di panggung nasional maupun global, bukan hanya di sudut-sudut yang sudah terpinggirkan.
Dan kepada almamater sendiri, bangunlah ekosistem alumni yang hidup. Bukan sekadar reuni lima tahunan dan grup WhatsApp yang penuh forwarded messages. Tetapi platform kolaborasi aktif antara kampus, mahasiswa, dan alumni, tempat pengetahuan mengalir ke dua arah.
Di era di mana dunia tenggelam dalam banjir data, konten, dan informasi tanpa henti, justru yang paling dibutuhkan adalah manusia yang bisa memberi makna. Bukan sekadar manusia yang bisa mengoperasikan teknologi, tetapi manusia yang bisa bertanya, makna apa yang sedang kita bangun? Cerita apa yang sedang kita sampaikan? Nilai apa yang sedang kita pertahankan?
Itulah, sesungguhnya, yang menjadi jiwa dari ilmu-ilmu yang diajarkan di FSIKP UMI Makassar. Jiwa yang tidak perlu digantikan, tetapi sangat perlu diperbarui wadahnya.
Transformasi bukan pengkhianatan terhadap tradisi. Transformasi adalah cara paling tulus untuk merawat warisan, dengan membuatnya tetap hidup, tetap berguna, dan tetap bermakna bagi generasi yang sedang dan akan datang.
Xuzhou, Jiangsu, China, 31 Mei 2026
M. Ali Hapsah, Ph.D.
Penulis adalah alumni Sastra Inggris UMI Makassar angkatan 1993

Posting Komentar